Tekonologi yang semakin maju dengan tingkat peradaban yang tak kalah majunya,
ternyata juga berimbas negatif bagi kehidupan sosial dan masyarakat.
Belakangan seks bebas di kalangan remaja disebut-sebut semakin
meningkat. Sejumlah kasus kemudian mencuat kepermukaan. Sebut saja yang
belakangan cukup membuat heboh, yakni tundingan bahwa Agung Dumadi telah
menghamili seorang gadis, Pipit, yang tidak diakuinya. Begitu juga
dengan Faisal yang juga dituding telah memperkosa gadis berusia 18
tahun, Sheara Rendra Mayang Putri. Kedua kasus tersebut hingga kini
belum diketahui kebenarannya dan masih banyak kasus serupa yang mungkin
tidak sampai ke telinga kita.
Jika
menilik kasus tersebut, tentu yang menjadi pertanyaan, fenomena apa
yang sebenarnya terjadi di kalangan remaja. Didikan orangtua dan agama
juga menjadi kunci dari permasalahan tersebut. Terlepas dari hal
tersebut, bagaimana bila keduanya yang sama-sama berniat untuk
melakukanya? Yang pasti, pertanyaan siap atau tidak, seseorang
berhubungan seks tentu juga menjadi tanda tanya yang harus dijawab.
Siap
melakukan hubungan intim merupakan konsep yang sederhana, secara khusus
karena setelah melakukannya -sekali atau barangkali lebih dari itu -
tidak menjadi jaminan bahwa Anda siap untuk melakukannya atau bahwa Anda
sudah siap melakukanya lagi. Pasalnya, faktanya, banyak gadis, setelah
mereka bercinta dan menyesalinya, baru menyadari betapa tidak siapnya
mereka. Tentu saja siap bukan dalam artis secara fisik saja akan tetapi
juga mental.
Untuk
mengetahui siap atau tidaknya Anda berhubungan seks, sedikit banyak bisa
dilihat dari jawaban-jawaban Anda mengenai pertanyaan tentang beberapa
hal berikut ini;
Jika dia tidak memaksa untuk melakukannya, apakah saya tetap masih menginginkannya?
Jika dia tidak menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang serius dalam hubungan kami, apakah saya tetap menginginkannya?
Apakah saya bisa menerima bila ternyata akhirnya hamil?
Apakah saya mempersiapkan segalanya agar tidak hamil?
Apakah saya siap bila akhirnya mengidap penyakit kelamin atau AIDS sekalipun?
Apakah saya merasa bersalah setelah melakukan hal tersebut yang nyata-nyata jauh dari norma agama?
Patutkah saya berbicara tentang hal ini diusia yang belum bisa dibilang matang?
Bagaimana pertanggungjawaban dengan orangtua, masyarakat dan Tuhan?
Apakah saya suka bermesraan ketika sedang mabuk atau menggunakan obat-obatan terlarang?
dan
masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang harus Anda jawab secara
jujur. Jika banyak jawaban dari pertanyaan di atas adalah "Ya", maka
memang Anda sudah merasa siap. Akan tetapi patutnya, beberapa pertanyaan
tersebut dijawab dengan kata "Tidak".
Tak
hanya pertanyaan tersebut, masih banyak masalah lain yang perlu
dipertimbangkan sebelum Anda memastikan diri siap melakukan hubungan
intim di luar pernikahan. Misalnya saja;
Kehilangan
keperawanan merupakan suatu peristiwa yang akan Anda ingat untuk
selama-lamanya. Kehilangan keperawanan sebelum menikah bukanlah sebuah
pengalaman yang paling sempurna. Bukan pula sebuah kejadian besar yang
harus menjadi topik dalam setiap perbincangan.
Sesungguhnya
bukan suatu keputusan yang mudah untuk menentukan seberapa jauh Anda
akan melangkah ketika Anda sudah siap untuk melakukan segalanya. Dan
alangkah baiknya untuk memberi banyak kesempatan kepada diri sendiri
kareka seks akan menghasilkan momentum-momentum seiring bergulirnya
waktu dimana batas-batas yang telah Anda tetapkan semakin kabur dalam
pergulatan nafsu yang sedang menggelayuti Anda. Jadi apa yang tampaknya
tidak masalah pada saat itu bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan diri
Anda beberapa hari kemudian.
Seks
antara dua orang dewasa yang siap menghadapi semua resiko dan
penghargaan yang mungkin terjadi memang sesuatu yang mengasyikan baik
secara emosional dan fisik. Bila tidak, tak mungkin ada orang yang akan
sudi melakukannya. Tapi bercinta bisa membuat Anda merasa benar-benar
tercampakkan jika Anda menyesalinya di kemudian hari atau jika Anda
mengira Anda berada dalam suatu hubungan yang sudah berjalan lama dan
semuanya berubah seratus delapan puluh derajat karena tiba-tiba ia sudah
meninggalkan Anda.
So,
dari semua yang terpenting adalah sikap dan tanggung jawab Anda secara
moral dengan segala hal yang Anda lakukan. Namun ada baiknya untuk
berpikir berulang kali untuk memutuskan suatu hal. Dan yang pastinya
lebih baik melakukan hubungan seksual dengan pasangan resmi dalam sebuah
lembaga perkawinan yang sudah secara sah diakui agama dan hukum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar