Jumat, 15 Juni 2012

SEKS PRANIKAH Siap atau Tidakkah Anda Melakukannya?


Tekonologi yang semakin maju dengan tingkat peradaban yang tak kalah majunya, ternyata juga berimbas negatif bagi kehidupan sosial dan masyarakat. Belakangan seks bebas di kalangan remaja disebut-sebut semakin meningkat. Sejumlah kasus kemudian mencuat kepermukaan. Sebut saja yang belakangan cukup membuat heboh, yakni tundingan bahwa Agung Dumadi telah menghamili seorang gadis, Pipit, yang tidak diakuinya. Begitu juga dengan Faisal yang juga dituding telah memperkosa gadis berusia 18 tahun, Sheara Rendra Mayang Putri. Kedua kasus tersebut hingga kini belum diketahui kebenarannya dan masih banyak kasus serupa yang mungkin tidak sampai ke telinga kita.
Jika menilik kasus tersebut, tentu yang menjadi pertanyaan, fenomena apa yang sebenarnya terjadi di kalangan remaja. Didikan orangtua dan agama juga menjadi kunci dari permasalahan tersebut. Terlepas dari hal tersebut, bagaimana bila keduanya yang sama-sama berniat untuk melakukanya? Yang pasti, pertanyaan siap atau tidak, seseorang berhubungan seks tentu juga menjadi tanda tanya yang harus dijawab.
Siap melakukan hubungan intim merupakan konsep yang sederhana, secara khusus karena setelah melakukannya -sekali atau barangkali lebih dari itu - tidak menjadi jaminan bahwa Anda siap untuk melakukannya atau bahwa Anda sudah siap melakukanya lagi. Pasalnya, faktanya, banyak gadis, setelah mereka bercinta dan menyesalinya, baru menyadari betapa tidak siapnya mereka. Tentu saja siap bukan dalam artis secara fisik saja akan tetapi juga mental.
Untuk mengetahui siap atau tidaknya Anda berhubungan seks, sedikit banyak bisa dilihat dari jawaban-jawaban Anda mengenai pertanyaan tentang beberapa hal berikut ini;
Jika dia tidak memaksa untuk melakukannya, apakah saya tetap masih menginginkannya?
Jika dia tidak menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang serius dalam hubungan kami, apakah saya tetap menginginkannya?
Apakah saya bisa menerima bila ternyata akhirnya hamil?
Apakah saya mempersiapkan segalanya agar tidak hamil?
Apakah saya siap bila akhirnya mengidap penyakit kelamin atau AIDS sekalipun?
Apakah saya merasa bersalah setelah melakukan hal tersebut yang nyata-nyata jauh dari norma agama?
Patutkah saya berbicara tentang hal ini diusia yang belum bisa dibilang matang?
Bagaimana pertanggungjawaban dengan orangtua, masyarakat dan Tuhan?
Apakah saya suka bermesraan ketika sedang mabuk atau menggunakan obat-obatan terlarang?
dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang harus Anda jawab secara jujur. Jika banyak jawaban dari pertanyaan di atas adalah "Ya", maka memang Anda sudah merasa siap. Akan tetapi patutnya, beberapa pertanyaan tersebut dijawab dengan kata "Tidak".
Tak hanya pertanyaan tersebut, masih banyak masalah lain yang perlu dipertimbangkan sebelum Anda memastikan diri siap melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Misalnya saja;
Kehilangan keperawanan merupakan suatu peristiwa yang akan Anda ingat untuk selama-lamanya. Kehilangan keperawanan sebelum menikah bukanlah sebuah pengalaman yang paling sempurna. Bukan pula sebuah kejadian besar yang harus menjadi topik dalam setiap perbincangan.
Sesungguhnya bukan suatu keputusan yang mudah untuk menentukan seberapa jauh Anda akan melangkah ketika Anda sudah siap untuk melakukan segalanya. Dan alangkah baiknya untuk memberi banyak kesempatan kepada diri sendiri kareka seks akan menghasilkan momentum-momentum seiring bergulirnya waktu dimana batas-batas yang telah Anda tetapkan semakin kabur dalam pergulatan nafsu yang sedang menggelayuti Anda. Jadi apa yang tampaknya tidak masalah pada saat itu bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan diri Anda beberapa hari kemudian.
Seks antara dua orang dewasa yang siap menghadapi semua resiko dan penghargaan yang mungkin terjadi memang sesuatu yang mengasyikan baik secara emosional dan fisik. Bila tidak, tak mungkin ada orang yang akan sudi melakukannya. Tapi bercinta bisa membuat Anda merasa benar-benar tercampakkan jika Anda menyesalinya di kemudian hari atau jika Anda mengira Anda berada dalam suatu hubungan yang sudah berjalan lama dan semuanya berubah seratus delapan puluh derajat karena tiba-tiba ia sudah meninggalkan Anda.
So, dari semua yang terpenting adalah sikap dan tanggung jawab Anda secara moral dengan segala hal yang Anda lakukan. Namun ada baiknya untuk berpikir berulang kali untuk memutuskan suatu hal. Dan yang pastinya lebih baik melakukan hubungan seksual dengan pasangan resmi dalam sebuah lembaga perkawinan yang sudah secara sah diakui agama dan hukum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar